Friday, August 17, 2012

a Piece of Hope


hahaha
Semu. nyata. terlihat dengan jelas.
Semuanya terasa seperti angin yang tak kunjung berhenti.
Semuanya terasa seperti hujan yang takkan pernah reda.
Semuanya, terasa seperti angan, namun nyata.

Harapan. Semu. tidak terlihat. nyata.
Harapan. Terlalu bodoh untuk mengharapkan semuanya.
Terlalu bodoh untuk mengucap kata iya dan setelahnya, dibiarkan begitu saja.

Bodoh.
Saya menggantungkan harapan besar itu sama mereka.
Tapi, mereka merusaknya. hingga harapan indah yang saya impi-impikan sekarang hanyalah menjadi puing puing abu yang tak berharga.
Mereka membuat sekeping harapan yang sangat berharga, menjadi setetes sabun.
Mereka merusaknya!
Saya benci.

Mereka terlalu pintar untuk merusak hidup seseorang.
mereka tidak pernah bodoh untuk melakukannya.
Hingga akhirnya, harapan-harapan yang selalu diharapkan akan terjadi, mulai sirna karna mereka mengubah -kita- menjadi sesuatu yang baru.

apa saya terlampau bodoh sehingga mereka mampu menembusnya dan menghancurkan harapan kokoh yang selalu saya tulis dibalik buku catatan saya.
Apa saya terlampau tolol sehingga mereka mampu membohongi saya dan menghancurkan harapan kokoh saya?

Ah, entahlah.
Mereka menghancurkan semuanya.
Saya -benci- mereka.
Untuk saat ini.

0 comments:

Post a Comment