Saturday, September 28, 2013

9/28/2013 - No comments

(entah judulnya apa)

7 tahun yang lalu............

"Kamu harus jadi orang sukses. kamu harus bangkit. inget sama apa yang ibu bilang? orang sukses itu yang berhasil bangkit dari keterpurukan ketika nggak ada yang nyemangatin."

"mmm,iya bu...tapi.."

"Orang terbaik dihasilkan dari pengalaman pahit. Sama, semua orang sukses begitu. dulunya pasti pernah punya pengalaman pahit. dan mereka ngejadiin itu pelajaran, makanya mereka sukses."
 
Lagi-lagi. nasihat ibu membuatku menangis. teringat bahwa sampai sekarang aku belum memenuhi janjiku kepada ibu, menjadi orang sukses. aku belum membuktikan kepada ibu, bahwa aku akan menjadi apa yang dia banggakan. aku akan menjadi orang sukses seperti janjiku pada ibu dulu. Aku akan membuktikan, bahwa aku tak seburuk yang ayah pikirkan.  aku bukanlah anak manja seperti kata ayah. 

Aku masih memikirkannya. Kejadian 7 tahun yang lalu hingga sekarang. kejadian dimana ibu meninggal saat aku memenangkan olimpiade sains saat SMA kelas 3 itu. Andai ibu tidak ingin melihatku memegang medali kemenangan itu, ibu masih ada. aku masih belum mengikhlaskannya, aku sadar. Aku sering lupa bahwa aku harus bangkit dari keterpurukanku dan bukannya terus seperti ini.  

***

"Rat, gimana? kerjaannya lo terima nggak nih? cepetan, gue saranin. keburu diambil orang"  tiba-tiba Citra menyadarkanku dari lamunanku.

Well, sebenarnya pekerjaan yang diberikan citra, lebih tepatnya masih ditawarkan Citra, menyangkut cita-cita terbesarku. masa depanku yang kudambakan semenjak dahulu, semenjak ibu bercerita tentang suatu penulis hebat. Entah kebenarannya, pokoknya semenjak itu, aku ingin sekali menjadi penulis hebat, seperti yang ibu ceritakan dahulu.

"Mau kok." aku menjawab sekilas, kemudian aku terdiam.

Teringat kembali pada cerita-cerita ibu tentang orang sukses. teringat kembali pada cerita-cerita ibu tentang orang hebat yang bangkit dari masa-masa lalunya yang kelam. Tak terasa, tetesan air itu jatuh. Aku sadar, aku merindukan ibu, belum sepenuhnya merelakan kepergian ibu, karena ibu lah yang selalu ada disetiap aku membutuhkan semangat untuk bangkit. karena ibu lah yang selalu memberikan motivasi ketika aku jatuh. Karena ibu lah yang selalu memelukku ketika aku benar-benar muak akan kerasnya dunia.

"Rat, lo kenapa? Kok nangis?" tiba-tiba Citra memukul pelan bahuku.
 "Nggak kok. nggak apa-apa." Refleks, aku menghapus air mata itu dengan kasar.
"Kenapa?" Citra bertanya.
"Nggak, nggak kenapa-kenapa. Mulai kerjanya jadi kapan?" aku hanya terdiam, enggan menceritakannya. lebih tepatnya, malas untuk membuka cerita.
"Mulai minggu depan aja gimana? Jadi editor buku?" Citra menjawab dengan raut muka penasaran tentang air mata itu.
"Yaudah. minggu depan ya,Cit. Tenang aja, gue nggak kenapa-kenapa kok. Cuman lagi kangen aja sama seseorang." aku menjawab seadanya, kemudian menjawab raut muka Citra yang tampak keheranan, kemudian aku meninggalkan Citra yang terpaku ditempatnya dengan raut muka yang kebingungan.

***

3 tahun kemudian.

*bunyi telefon*
Aku melihat telefon genggamku, kemudian menekan tombol hijau.
"Iya, kenapa?" ujarku singkat. 
"Acara book signing nya kapan mau diadain mbak? Bukunya laris banget loh. Bahkan ada beberapa pembeli buku yang pengen banget buat ngelihat writernya langsung. "

Memang, waktu itu aku sempat menulis cerita singkat yang kemudian aku kembangkan menjadi sebuah buku, lebih tepatnya novel. Bermula dari menjadi editor, disana aku banyak belajar. belajar berdamai kemudian melepaskan masa laluku yang sebenarnya menyakitkan. aku belajar dari semuanya. bagaimana aku tumbuh sendiri tanpa ibu. kemudian aku menangis sambil tersenyum. Aku telah memenuhi janjiku kepada ibu, menjadi orang sukses. menjadi penulis terkenal. menjadi apa yang aku damba-dambakan. saat itu rasanya aku sadar, bahwa dibalik setiap fisik dan batin yang lelah, disana ada kesempatan besar dan pelajaran besar yang menanti. Saat itu aku sadar, bahwa aku tumbuh dengan semua sesak dihati yang akhirnya bisa kurelakan. Saat itu, aku hanya tersenyum. bangga bahwa aku bisa mewujudkan secara nyata mimpi ibu. Kemudian, ku ingat ibu yang sempat berkata,
    " Kamu akan jadi orang hebat,nak. Percaya sama talenta dan dirimu." 


"Kapan ya?Mmm, lusa aja gimana? Sabtu." Aku menjawab sambil tersenyum. Masih kaget akan semuanya.
"Yaudah mbak, saya tunggu ya Sabtu." lawan bicaraku menjawab.
"Oke." jawabku kemudian memutuskan percakapan telefon tersebut.

***

Sabtu siang.
Aku menelfon Citra.
"Cit, temenin gue ke book signing ya? Acara gue nih. elo harus ikut. kan dulu elo yang sering motivasi gue. the best banget dah lo." ujarku cepat, bahkan sebelum Citra sempat berkata 'halo' sebagaimana semestinya.

"Iya,Ratna!! Pasti kok. elo kan the best nya gue, masa iya, gue ngebiarin elo sukses tanpa gue? hehe" Citra langsung menjawab, mengabaikan kata halo yang terlupakan. 

"Oke." Aku menjawab singkat kemudian menutup telefon.

Citra tersenyum. bangga akan aku yang bisa bangkit. bangga akan aku yang sekarang bisa memotivasi diriku sendiri. Bagaimana aku tahu? dia the best part of aku.


***

"Belajar dari mana sih, mbak Ratna? kok bisa keren banget gini novelnya?" tanya salah seseorang pembeli buku pada acara book signing tersebut.
"Lebih tepatnya, belajar dari keterpurukan sih. Keterpurukan yang dulu, bisa bikin saya sesukses ini." Aku hanya tersenyum singkat.

***

Aku belajar banyak dari ibu. Ibu yang memotivasiku untuk mewujudkan mimpiku yang dulunya hanyalah angan-angan belaka. Ibu yang membuat semangatku bangkit ketika aku terpuruk, meskipun sebenarnya aku sadar, akulah yang sering menyakiti ibu. Akulah yang sering membantah ibu. Dia adalah ibu yang terbaik  yang pernah kupunya selama ini. Soal ayah, ayahku, ia meninggalkan ibu ketika aku lahir. Well, lupakan.

Kemudian,Citra. Citra yang berusaha memotivasiku setiap saat dan ia tak pernah lelah. ia yang selalu mengingatkanku akan mimpi-mimpi ibu terhadapku. ia yang selalu menenangkanku ketika aku sedih, sebagai pengganti ibu dulunya.

Aku sadar, banyak hal yang bisa kusimpulkan dari semua ini. kusimpulkan bahwa tidak semua hati yang tersiksa hanya menyisakan pedih dan luka. kusimpulkan bahwa tidak semua fisik yang lelah hanya menyisakan jejak tanpa bekas. kusimpulkan bahwa, jadi orang sukses itu butuh perjalanan panjang yang menguras hati, tenaga dan khususnya waktu. tetapi, usaha yang kita lakukan pasti akan selalu ada artinya, sekecil apapun itu. 

Terimakasih ibu dan Citra, aku belajar banyak dari kalian.

NB : hanya fiktif belaka.

Monday, September 23, 2013

9/23/2013 - No comments

-



Ingatkah kamu, ketika pertama kali kita bertemu?
Disana hanya ada senyum semu. Disana hanya ada mata yang melihat.

Ingatkah kamu, ketika pertama kali, kamu mengucapkan satu patah kata?
Disana hanya ada canggung, belum ada senyum.

Ingatkah kamu, ketika kemudian kita saling berbicara kemudian berbagi cerita?
Disaat itu pula, aku mulai jatuh cinta.
Disaat itu pula, aku mulai merasa takut.
Takut kehilangan dirimu. Meskipun kurasa, aku hanya akan mencintaimu dalam diamku.

Ingatkah kamu, ketika kemudian kita saling berbagi rasa dan asa, kemudian mulai berbagi cerita kehidupan?
Disaat itu pulalah, aku mulai menyayangimu. Menyayangimu. Hanya itu.

Ingatkah kamu, ketika kemudian kita mulai melepas diri, melepas rasa yang dulunya saling kita bagi? Melepas semua cerita yang pernah kita lalui bersama? Melepas asa yang kita bagi bersama?
Disaat itu pulalah, aku semakin takut.
Aku takut kehilangan dirimu.
Aku………terlanjur mencintaimu.

Ingatkah kamu, ketika kemudian akhirnya kita kembali menjalani kehidupan kita masing-masing.
Disaat itu pula-lah. 
Aku merindukanmu. 
Menyadari bahwa aku pernah menyayangimu. Mencintaimu.

Dan……. Yes, until now…..
Aku masih mencintaimu.




NB : hanya kisah fiktif belaka.

Tuesday, August 27, 2013

8/27/2013 - No comments

----------

Lagi-lagi.

satu kata yang sulit terucap mulai membayangiku. yes.
Cinta.

Aku takut, dan aku enggan.
Aku takut mencintai seseorang.
Aku takut untuk melakukan satu kebodohan lagi;
jatuh karena cinta.

Aku enggan.
enggan membayangkan rasanya jika aku harus menelan fakta pahit dikemudian hari;
enggan membayangkan rasanya jika aku harus terpaksa berhenti.....mencintai diri seseorang;
enggan membayangkan rasanya menahan kelu dilidah, pahit di hati. sesak membara;
aku hanya enggan merasakan itu semua.

Aku takut untuk terjatuh karena seseorang,jujur.
Aku takut untuk merasakan pahitnya mencintai,jujur.
Aku hanya takut untuk terjatuh.

Kesekian kali, kukatakan...
Aku takut terjatuh.

Meskipun beribu-ribu kalimat lebih banyak diekspresikan dengan kata lelah.
Meskipun beribu-ribu kata lebih banyak diekspresikan dengan senyum kelam.
Meskipun beribu-ribu huruf hanya diekspresikan dengan air mata.


Jujur, aku takut.... takut mencintai.
tapi...........ada beberapa kata yang harus kusampaikan padamu.
Aku mencintaimu.
Ya, Aku mencintaimu.
Dengan 2 kata singkat itu;
aku mencintaimu dengan segala kekuranganmu.
mencintaimu dengan tulus.
mencintaimu sepenuhnya.

Aku mencintaimu.
I Love You.
Mahal Kita.
Te quiero tanto.
Ich Liebe Dich.
Je t'aime.
Volim te.
Seni Seviyorum.

Aku hanya sulit menjelaskan semuanya dengan kata,jujur saja.
tapi.....ya, aku mencintaimu.



NB: semua tulisan puitis yang berada dibawah hanyalah fiktif belaka, bukan kejadian nyata.

Monday, June 17, 2013

6/17/2013 - No comments

Welcome Back!

Finally, gue punya waktu ngeblogging. yay, hehehe.:) well, gue baru aja kelar UN sama lulus-lulusan nih guys! maaf yaaa jarang ngeblog, karna juga bingung sih apa yang harus di posting di sela-sela kesibukaaan. *eaa* wkwk. yasudah mendingan masuk ke postingannya aja deeeh.

Inti postingan kali ini adalah bagaimana caranya memberikan lebih meskipun menerima sedikit dan gimana caranya jadi diri sendiri. yah, diluar sana kan masih banyak yang fake ya kepribadiannya, fake tabiatnya. jadi harus dibahas!

dimulai dari hal-hal kecil untuk memberikan, maka lama kelamaan kamu akan lebih suka memberi daripada menerima.
dimulai dari mengingat apa yang telah mereka berikan untukmu, dan bagaimana kamu membalas budi mereka.
dimulai dari perilaku yang sepele hingga akhirnya dapat memberikan sesuatu yang besar.
dimulai dari bagaimana perilaku baik mereka, meskipun mereka buruk, ingatlah tabiat baik yang terselip dibaliknya.
dimulai dari menolong semuanya tanpa pandang bulu, tanpa pandang muka apalagi harta.
dimulai dari niat hanya memberi, bukan memberi untuk mendapat sesuatu.

dimulai dari hanya menjadi dirimu sendiri tanpa memerdulikan manusia menyukaimu apa tidak.
dimulai dari menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan.
dimulai dari mengurangi tabiat jelek tapi tetap menjadi diri sendiri.
dimulai dari menambah tabiat bagus tapi tetap menjadi kamu.
dimulai dari cuek, apatis-mu. karena disinilah kamu bisa melihat seberapa banyak yang perduli padamu.
dimulai dari sebodo-amat-mu. karena disinilah kamu bisa melihat siapa yang sebenarnya memerhatikanmu tanpa mencari apapun.
dan yang terakhir. kembali ke kepribadian kamu sendiri. Selama kamu merasa itu baik, mereka akan menyukaimu. atau, orang yang benci kamu adalah cobaan dariNya agar kamu lebih kuat:")

Wednesday, March 20, 2013

3/20/2013 - No comments

Como Ama Una Mujer

How a woman loves. thats the meaning.

Bagaimana wanita mencintai;
Bagaimana wanita tersakiti;
Bagaimana wanita bertahan diatas batu karang dengan badai besar.
Bagaimana wanita kehilangan;
Bagaimana jika semuanya dirasakan sekaligus.

Kamu pernah tau,nggak,gimana saya sayangnya sama kamu?
Kamu pernah tau,nggak,gimana saya sebelnya sama kamu?
Kamu pernah tau,nggak,gimana sabarnya saya ngadepin kamu?
Kamu tidak.

Pernah nggak, ngerasain sakitnya saya?
Pernah nggak, ngerasain perihnya hati saya?
Tentu saja tidak, ya, kamu nggak akan pernah.

Maaf kalo saya nggak bisa jadi yang terbaik;karna inilah saya dengan segala kekurangan saya.
Maaf kalo saya selalu jadi yang egois;karna inilah saya dengan semua sikap-sikap saya.
Maaf kalo saya nggak bisa jadi yang dibangga-banggakan;karna inilah saya.

Tapi;inilah bagaimana saya sayang sama kamu.
Tapi;inilah bagaimana saya tulus sama kamu.
Tapi;inilah bagaimana saya mencintai kamu.
berjuang untuk kamu, meneteskan sesuatu yang sepatutnya tak pantas di teteskan;
hanya untuk kamu. Iya,kamu seorang.

Tapi, itulah bagaimana wanita mencintai,
berjuang untuk apa yang pantas diperjuangkan;
menangis untuk apa yang pantas ditangiskan.

Tidak setiap laki-laki yang saya;wanita lain cintai itu pantas untuk diperjuangkan.
Tidak setiap laki-laki yang saya;wanita lain cintai itu pantas untuk ditangisi.
Tidak setiap laki-laki yang saya;wanita lain cintai itu pantas untuk dikejar.
Camkan itu.

Dan itu bagaimana cara saya mencintai kamu.

3/20/2013 - No comments

Who Cares What They're Gonna Say?

Siapa,
Siapa yang perduli jika kau melakukan sesuatu?
Nobody do.

Siapa,
Siapa yang mau tahu jika saya, melakukan sesuatu?
Nobody do.

Siapa,
Siapa yang mau tahu semua seluk bekuk pekuk kehidupan saya di balik saya?
Nobody do.

And nobody won't know anything about me.
And nobody won't care anything about me.

So, who cares what they're gonna say?
Siapa perduli mereka mau bilang apa tentang saya?
Mereka nggak pernah ngerasain apa yang saya rasakan.
Mereka nggak pernah perduli tentang apa yang orang-orang lakukan,
Seakan,seolah, makhluk yang ada di hidupnya cuman mereka. diri mereka sendiri.
Egois.

So, who cares what they're gonna say?
Saya belajar banyak dari satu kalimat itu.
Dimana, nobody will care about how this world will grow up.
Dimana, nobody won't listen what I'm gonna say.
Dimana,kamu pun,iya,kamu....
won't know how my feeling at you.

Kamu,menyakitkan seperti mereka.
Kamu,melukaiku seperti mereka.
You broke mine.

Saturday, January 5, 2013

1/05/2013 - No comments

Why Should I?

Why should I angry for that handsome face?
Why should I angry for the painful?
Look; just receive it; and you will stronger.

Kenapa?
Pertanyaan itu selalu muncul, ketika orang yang saya sayang, entah apa kabarnya;
Hilang begitu saja. Muncul,Hilang, Tenggelam,Terbit.

Dimana?
Pertanyaan itu selalu, dan takkan pernah berhenti terngiang-ngiang, kalo saya, lagi kangen sama kamu.

Kapan?
Pertanyaan itu.........................selalu terkesan mengenang.
Mengenang indahnya semua yang pernah kita lakukan bersama;
merindukan, dan tetap saja semuanya menjadi kenangan yang busuk.

Kenapa.
Kenapa saya harus marah untuk semuanya?
Kenapa saya harus kembali mengulang kenangan-kenangan busuk kita?
Kenapa, kenapa saya harus bertanya, kamu ada dimana?
Kenapa.

Kenapa. menyakitkan.
Terkadang butuh jawaban.
Tapi, terkadang tanya itu akan tetap menjadi tanya.

Dan pertanyaan saya;
Kenapa.